♥
Penghuni Surga, Yang Belum Pernah Mendirikan Sholat♥
“Hidup terlalu mahal untuk dibiarkan seperti air mengalir”
Bukit Uhud, baru saja menyaksikan kecamuk peperangan yang sangat dahsyat.
Pertempuran besar-besaran kaum muslimin dan pasuka...
n kafir Quraisy, baru
saja usai dana meninggalkan keheningan mencekam. Para sahabat Rasulullah saw
yang masih hidup melakukan penyisiran, memeriksa jasad pasukan Muslim yang
banyak berjatuhan. Mereka memeriksa jasad-jasad itu satu persatu, sambil
berusaha mengenali mereka. Kesediahan merambat dalam hati kaum muslimin.
Diiringi desir angina di lembah Uhud, dan sesekali teriakan para pejuang yang
terluka masih hidup, mereka mendapati banyak para sahabat yang gugur dalam
peperangan itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan yang membuat sebagian sahabat terkejut. “Ushairam,
ini Ushairam…! Sejumlah orang berteriak terkejut melihat tubuh seorang yang
mereka juluki Ushairam bergeletak bersimbah darah. Ushairam masih hidup. Tapi
nafasnya tersengal-sengal. Luka di tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah.
Mereka terkejut, karena Ushairam tergeletak di temapat pasukan islam? Para
sahabat bertanya, “Ushairam, kenapa berada disini? Apakah engakau memata-matai
untuk kaummu atau karena menerima Islam?” Dengan bicara yang tersendak-senda,
Ushairam berusaha menjelaskan, “Aku telah menerima Islam… aku beriman pada
Allah dan Rasul-Nya… aku ambil pedangku dan aku berperang bersama Rasulullah…”
belum usai menuntaskan perkataannya. Ushairam menghmbuskan nafasnya yang
terakhir. Para sahabat lalu mengadukan peristiwa ini kepada Rasulullah saw.
Rasulullah saw menjawab dengan kalimat pendek yang begitu indah. “Ushairam
termasuk ahli surga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hajar)
Ushairam, adalah julukan dari Amr bin Tsabit AlAsyhali Al Anshary ra. Ia
keponakan sahabat Rasulullah saw saat hijrah ke Thaif, Khudzaifah bin Yaman ra.
Mungkin sangat jarang mendapati atau mendengar nama ini disebut. Tapi dia
adalah satu-satunya sabhabat Rasulullah yang mendapat predikat, ‘Penghubi Surga
yang belum perna melakukan shalat’.
Kisah tentang Ushairam disebutkan oleh Abu Hurairah. Bahwa sejak Rasulullah
mendakwahkan Islam, Ushairam sudah kerap diajak oleh kaum Muslimin untuk
menerima agama Allah swt. Tapi Ushairam selalu mengatakan, “Kalau aku tahu apa
yang kalian sampaikan itu adalah kebenaran aku pasti tidak akan menunda-nunda
untuk mengitu kalian.” Itu saja yang dia ucapkan.
Sampai ketika detik-detik menjelang berkorbarnya perang Uhud. Allah swt memberi
hidayah keimanan yang begitu kuat dalam hatinya. Ia tiba-tiba terlecut untuk
bangkit mengangkat pedang dan segera menghela kudanya menghadap Rasulullah saw.
Ushairam dengan tegas mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan dirinya
masuk islam. Tak lama setelah itu, Ushairam sudah bergabung bersama pasukan
islam lainnya sebagai pasukan Uhud. Banyak para sahabat yang belum mengetahui
status keislamannya saat itu. Dalam peperangan Uhud, tubuh Ushairam
tercabik-cabik. Ia pun akhirnya tersungkur setelah puluhan tebasan pedang,
tombak dan panah yang bersarang di tubuhnya.
Betapa mulia dan bahagianya Ushairam saat ini. Berada di tman-taman surga.
Meski belum sempat melakukan shalat satu kalipun dalam hidupnya. Tapi secepat
ia memilih jalan Allah, secepat ia menuntaskan persembahan hidupnya di jalan
Allah, secepat itulah perjalanannya menuju surga.
Ushairam telah berhasil melakukan revisi besar dalam hidupnya. Dan langkah
revisi yang ia lakukan itu benar-benar membuahkan hasil yang sangat di dambakan
semua orang, termasuk kita. Perjalanan hidup seseorang di suatu masa, memang tak
menjadi ukuran apapun bahwa ia akan menjadi seperti apa di masa yang lain.
Sepotong episode hidup seseorang di suatu waktu, tak pernah menjadi ukuran
bahwa ia juga akan menjadi orang yang sama dengan episode hidupnya di masa
tertentu. Ushairam adalah contohnya. Langkah perubahan yang ia lakukan begitu
cepat mengantarkan pada posisi mulia.
Apa yang dilakukan Ushairam adalah pelajaran besar untuk kita, bahwa kita harus
mempunyai waktu untuk segera merespon perubahan-perubahan dalam hidup ini.
Merevisi hidup, merupakan perkara besar. Maka seseorang harus memiliki target
dan ukuran revisi yang sudah jelas kebenarannya. Revisi selalu membutuhkan
pengorbanan besar, mungkin juga rasa sakit. Ini jika kita harus merevisi dan
merubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Termasuk meninggalkan suatu kebiasaan
buruk, mebuang tradisi buruk yang mungkin sudah dilakukan berulangkali dan kita
merasakan kenikmatan sendiri melakukan keburukan itu.
Untuk membuang dan merevisi kebiasaan seperti itu , pasti tidak mudah. Karena
seseorang harus siap menanggung kesulitan bahkan rasa sakit, untuk mengubahnya.
Seperti perkataan Muhammad Natsir, “Sejarah telah menunjukkan, tiap-tiap bangsa
yang telah menempuh ujian hidup yang sakit dan pedih, tapi tidak putus bergiat
menentang marabahaya, berpuluh, bahkan beratus tahun lamanya, pada suatu masa
akan mencapai satu tingakat kebudayaan yang sanggup memberikan penerangan
kepada bangsa lain.”
Betapa banyak orang yang cenderung mau memeriksa perjalanannya lalu merevisi
hidupnya. Sampai hidupnya perlahan terus di gerogoti usia, sampai jasadnya
terus menerus dimakan waktu yang tak pernah berhenti. Hingga akhirnya ia tak
mampu lagi melakukan perubahan yang berarti karena renta, atau karena usianya
memang sudah selesai waktunya. Betapa banyak diantara kita yang tidak peduli
dengan perguliran waktu, dan membiarkan hidupnya berjalan seperti air, tanpa
target, tanpa terencana, tanpa tujuan yang jelas. Hingga hidupnya terjebak pada
situasi yang tak memungkinkannya lagi berubah arah. Betapa banyak di antara
kita, orang yang membiarkan kehidupannya berlalu dengan produktifitas kebaikan
yang rendah, sementara orang-orang lain telah memiliki saham kebaikan di
mana-mana. Hidupnya berlalu begitu saja. Dan berakhir begitu saja.
Hidup terlalu mahal untuk dibiarkan seperti air mengalir. Hidup harus
direncanakan, diarahkan dan dipelihara sedemikian rupa agar tujuan hidup
benar-benar tercapai. Hidup harus pula direvisi, dibenahi, dirubah jika perlu
dan memang hidup mengalami perubahan. Seperti UShairam yang mengaetahui titik
revisi yang harus ia jalani. Yang secepat kilat telah mengetahui jalan yang ia
pilih, lalu ia mempersembahkan dirinya untuk jalan kebaikan yang menjadi
pilihannya itu. Agar hidup ini bisa seiring sejalan dengan semakin bartambahnya
amal-amal shalih yang menjadi alurnya. Sampai seperti apa yang dikatakan Usman
bin Affan ra, “Tak ada kecintaan padaku pada perguliran hari dan malam, kecuali
aku menemui Allah dengan membaca Mushaf.”